Setono Gedong, Situs Makam Guru Jayabaya

kedirionline.com – Situs Setono Gedong sangat mudah dijangkau. Lokasinya berada di belakang Masjid Aulia Setono Gedong, bisa dicapai melalui sebuah gang yang cukup besar di Jl. Doho, Kediri, yang letak dan arahnya berseberangan dengan jalan simpang yang menuju ke arah Stasiun Kereta Api Kediri. Di dekat situs ini juga terdapat kompleks makam keramat yang banyak dikunjungi peziarah.

Sebelum masuk ke kompleks Masjid Setono Gedong, terdapat sebuah gapura yang tidak begitu tinggi namun sangat tebal dindingnya, yang konon sebelumnya merupakan gapura sebuah candi. Sebuah sumber mengatakan bahwa beberapa pihak telah berupaya untuk mempertahankan gapura itu, namun sayang tidak berhasil. Masih beruntung bahwa gapura candi itu tidak dihancurkan, namun hanya dilapis semen sehingga bentuknya pun berubah seperti sekarang ini.

Susunan batu yang ditata berjajar membentuk undakan menuju bangunan pendopo bergaya joglo, yang berukuran besar di sebelah kanan, dan yang berukuran kecil berada di sebelah kiri. Kedua bangunan itu tampaknya belum terlalu lama didirikan.

Susunan batu di bagian bawah yang berwarna kekuningan adalah masih asli, yang menurut sebuah sumber merupakan pondasi sebuah candi dari jaman Kerajaan Kediri, sedangkan yang dibagian atasnya merupakan susunan batu yang ditata kemudian.

Konon di atas pondasi candi itu sempat akan dibangun sebuah masjid oleh para wali. Namun karena alasan yang tidak diketahui, pembangunan masjid itu tidak jadi dilaksanakan. Materialnya konon kemudian digunakan untuk membantu menyelesaikan pembangunan Masjid Demak di Demak, dan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon.

Dalam catatan sejarah perjalanan, situs ini sudah cukup di kenal di Indonesia, salah satunya sebagai situs makam guru dari Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya atau Joyoboyo.

Agus Sunyoto, penulis buku Atlas Wali Songo yang juga pengamat sejarah wali songo, menceritakan banyak tentang situs Setono Gedong ini.

Menurutnya hasil survei epigraf Islam yang dilakukan Louis-Charles Damais dalam laporan berjudul Lepigraphie Musulmane Dans le Sud-est Asiatique, inskripsi kuno di makam Setono Gedong Kediri menyebutkan makam seorang Al-imam Al-Kamil yang epitafnya diakhiri dengan keterangan al-syafii madzhaban al-arabi nisban wa huwa taj al-qudha (t) namun tidak terdapat tanggal tepat tentang inskripsi tersebut.

“Menurut Claude Guillot dan Luvik Kalus dalam Lenigmatique Inscription Musulmane du Maqam de Kediri, perusakan seperti itu disengaja terbukti dari pukulan pukulan yang dilakukan oleh orang yang beragama Islam yang paham bahasa Arab, karena para perusak tidak merusak nama Nabi dan al-hijrah al-nabawiyah setelah tanggalnya. Namun apapun situs ini adalah situs yang sangat penting, karena Syaikh Syamsuddin al-Wasil adalah seangkatan Fatimah Binti Maimun yang makamnya di Leran Gresik,” kata Agus Sunyoto yang juga wakil ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU ini.

Masih menurut Agus, pandangan kisah tokoh Syaikh Syamsuddin dalam hubungan dengan Sri Mapanji Jayabhaya, digambarkan sebagai hubungan guru dengan murid. Hubungan tersebut disinggung dalam Kakawin Hariwangsa pada epilog yang memaparkan keberadaan Mapanji Jayabhaya dan guru penasehatnya dalam gambaran yang menyatakan bahwa Wisynu telah pulang ke surga, tapi turun kembali ke bumi dalam bentuk Jayabhaya pada Zaman Kali untuk menyelamatkan Jawa.

“Sebagai titisan Wisynu Sri Mapanji Jayabhaya ditemani oleh Agastya yang merintis dalam diri pendeta kepala Brahmin penasehat raja. Menurut Prof Dr Poerbatjaraka dalam Agastya in den Archipel, memaparkan hubungan Jayabhaya (titisan Wisynu) dengan gurunya (titisan Agastya) dengan mengutip sajak Kakawin Hariwangsa yang ditulis oleh Mpu Panuluh,” terang Agus.

Sebagian orang menafsirkan guru Sri Mapanji Jayabhaya adalah Mpu Sedah. Sementara bagian yang lain menafsirkan bahwa Mpu Sedah adalah guru Jayabhaya di bidang sastra, sedangkan bhiksu pandhita adhikara yang disebut dalam Hariwangsa adalah Syaikh Syamsuddin al-Wasil.

“Syaikh Syamsuddin tidak sekadar mengajarkan ilmu perbintangan dan nujum, melainkan menunjukkan pula karamah-karamahnya yang ditunjukkan seperti kesaktian Rsi Agastya. Sebutan bhiksu dan kemudian pandhita, lazim digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh Islam pada zaman itu. Seperti makam Fatimah binti maimun yang dalam prasasti Leran disebut susuk (tempat suci), sebutan pandhita untuk Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan penyebutan Ali Murtadllo sebagai Raja Pandhita di Gresik,” ungkap Agus.//cw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *