Isi Materi di Kajian Ramadhan, Khofifah Dapat Pujian dari Pimpinan Muhammadiyah

kedirionline.com – Di Kajian Ramadhan PWM Jawa Timur yang diselenggarakan di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut satu, Khofifah Indar Parawansa turut hadir dan menjadi salah satu pembicara.

Pada kesempatan yang sama ia dipuji secara langsung oleh Ketua PP Muhammadiyah, Hajriyanto Y Thohir, yang mengungkapan jika Khofifah punya modal yang kuat untuk pimpin Jawa Timur.

“Ibu Khofifah sudah pernah menjadi pimpinan DPR, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN, Wakil Ketua DPR lalu menteri lagi. Menteri saja sudah dua kali, ditambah lagi Ketua Muslimat NU,” kata Hajriyanto.

Bahkan, Hajriyanto mengatakan kalau untuk jadi gubernur, Khofifah akan mudah menjalankan tugasnya.

“Saya rasa kalau hanya menjadi Gubernur Jawa Timur itu soal enteng saja,” lanjutnya.

Khofifah juga pernah menjadi Ketua Delegasi Indonesia di forum PBB menyuarakan tentang “Women 2000, Gender Equality, Development and Peace for the Convention on The Elliminati on of All Forms of Discriminati on Against Women” di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Amerika Serikat pada 28 Febuari 2000.

Saat menjalankan tugas sebagai Menteri Sosial, Khofifah sukses menorehkan banyak prestasi.

Mulai dari Wilayah Bebas Korupsi dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) hingga Penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2017 dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) atas program “Risol Gepeng” (Rehabilitasi Sosial Gelandangan Pengemis).

Secara personal, Khofifah juga meraih Santri of The Year 2016 dan Tokoh Inspiratif 2017.

Saat ini, Khofifah ingin kembali ke Jawa Timur untuk membangkitkan kesejahteraan Jawa Timur yang merata.

Di forum yang sama, Khofifah memaparkan materi tentang politik kebangsaan dalam kajian Ramadan tersebut.

Menurut Khofifah, politik adalah kendaran untuk memberikan maslahat untuk masyarakat agar bisa menjalankan perintah agama dengan baik.

“Politik ini posisinya sebagai politik mardhiyah (untuk mendapatkan keridhoan Allah). Maka posisinya adalah dalam rangka fi hirosatiddiin wa siasatiddunya (menjaga agama, menata dunia). Kalau kita di sini, kita semakin punya spektrum yang saling melengkapi dengan apa yang faktual dengan secara empirik,” jelas khofifah.

Politik, Khofifah mengatakan, adalah bagian yang saling berkaitan dalam tatanan agama.

Kondisi ini menjadikan politik sebagai ladang ibadah untuk memberikan kesejahteraan bagi umat manusia.

“Menurut Imam Ghazali, agama dan kekuasan berdampingan. Bagaimana kita membangun negeri ini dan politik mengambil keputusan yang mengikat masyarakat umum, tapi ketika melihat kemungkaran harus yughoyyir biyadihi (melakukan dengan tindakan). Maka di posisi inilah kekuasaan dan penguasa menjadi penting terlibat di dalamnya,” pungkasnya.//cw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *