Inspirasi dari Kades Kebonrejo, Sukses Kembangkan Budidaya Cabai

Kedirionline.com – Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung – Kediri selama ini memang mashyur sebagai sentra penghasil cabai. Desa ini juga yang menjadi penyuplai terbesar ketiga pasokan kebutuhan cabe di Jawa Timur dan Jakarta.

Tanaman cabai memang primadona bagi masyarakat Desa Kebonrejo. Bahkan, ada semacam pengkuan bahwa mereka yang menanam cabe menduduki strata paling tinggi dibanding petani yang menanam jenis tanaman lainnya.

“Di sini menanam cabai menunjukkan strata sosial masyarakat,” tandas Yoni Widarto (38), Kepala Desa Kebonrejo.

Maklum, menanam cabai ternyata memiliki resiko yang lumayan besar, selain faktor keuntungan jika hasil panennya bagus dan melimpah.

Seperti baru-baru ini yang dialami oleh petani cabe di Kebonrejo yang tanamannya terserang virus kuning. Yang membuat bayang-bayang keuntungan melimpah saat panen seketika buyar.

Kondisi itulah yang kemudian menginspirasi Yoni Widarto untuk membangun green house di areal pertanian cabai miliknya. Dan ide Widarto membangun green house ternyata terbukti manjur menangkal virus sekaligus membuat tanamannya menjadi lebih sehat dan hasil panen bisa maksimal.

“Tidak ada sama sekali hama yang masuk di bangunan ukuran 20 x 60 meter ini. Tanaman saya aman dari virus kuning. Bisa dibedakan antara tanaman di dalam ruang ini dengan tanaman di luarnya. Akan beda hasilnya,” ungkap pria yang sebelum menjabat kades adalah ketua kelompok tani ini.

Bahkan, saat areal lahan cabai lain terkena serangan virus kuning, selama sebulan penanaman pihaknya sama sekali belum memberikan pestisida untuk mengusir hama. Cara itu pun dianggap mampu mengurangi ketergantungan tanaman cabai pada pestisida kimia yang selama ini cukup tinggi.

“Dengan cara ini bisa mengurangi pemakaian bahan kimia pada lahan kami. Sekaligus bisa melokalisir serangan virus. Sebab selama ini saat lahan satu disemprot. Hama kabur ke lahan lainnya. Adapun saat lahan lain disemprot malah bisa kembali ke lahan awal. Kalau dengan green house ini jelas aman,” ulasnya saat mendampingi anggota DPRD Propinsi Jawa Timur Dr. A Basuki Babussalam, SH, MH dan Anggota DPRD Kabupaten Kediri Sudarmiko.

Untuk membangun green house memang dibutuhkan biaya yang lumayan besar, menurut Widarto untuk green house miliknya seluas 20 X 60 meter ia menghabiskan biaya Rp. 40 juta.

“Estimasinya akan berfungsi hingga lima tahun. Selama itu otomatis lahan bisa terhindar dari hama. Ini sudah lebih hemat daripada penggunaan pestisida kimia. Sebelum ada green house, dalam satu hektare lahan cabai menghabiskan biaya Rp. 60 juta hingga Rp 80. juta. Itu untuk kebutuhan pestisida saja dalam setiap periode tanam (per periode lima bulan). Dengan estimasi biaya setinggi itu, pengendalian dengan pestisida kimia kurang efektif. Artinya, ada penghematan di kebutuhan lainnya,” urainya.

Green house, lanjut Widarto, juga ramah lingkungan. Sebelumnya, dengan pestisida kimia kualitas tanah terus berkurang lantaran terpengaruh bahan-bahan tersebut. Selain itu, hama pun makin kebal. “Kita sendiri takut kalau ketergantungan pestisida kimia ini tidak bisa dihentikan. Jangka panjang terlebih yang kita khawatirkan,” ujar kades 38 tahun ini.

Melihat dampak positif dengan tanaman cabainya di green house percobaannya tersebut. Widarto yang kali pertama menerapkan cara tersebut di desanya pun kini akan segera menyosialisasikan warganya agar mencoba mengikutinya.

“Akan coba kita coba ajak warga agar mengikuti cara kami ini. Agar tidak lagi khawatir dengan hama virus kuning ini,” tuturnya.

Dr. A Basuki Babussalam mengungkapkan kekagumannya atas totalitas Yoni Widarto dalam mengelola lahan pertaniannya.

“Selalu berinovasi dan tak mudah menyerah karena hambatan, mental seperti inilah yang kita butuhkan saat ini. Untuk menghadapi era yang kata banyak orang masa sulit ini. Pak Yoni memberikan inspirasi luar biasa. Inovasinya mengatasi hama pada lahan pertanian, juga konsistensinya untuk menekuni bidang pertanian sungguh luar biasa hebat,” tandas Basuki.

Saat ini, lanjut Basuki, minat anak muda di bidang pertanian memang sangat minim sekali.

“Karena bertani dianggap hal yang tidak menjanjikan. Tapi dengan inovasi yang dilakukan Pak Yoni menunjukkan kepada semuanya bahwa pertanian layak diperhitungkan untuk ditekuni dengan serius,” pungkas sosok yang belakangan santer tengah didorong banyak pihak untuk maju dalam kontestasi Pilbup Kabupaten Kediri 2020 mendatang.//cw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *