Sejarah Seni Dan Macam Jaranan Di Kediri

Jaranan merupakan seni yang wajib kita jaga dan dilestarikan agar jaranan ini tak musnah dan bisa dikenal dan nikmati oleh anak cucu kita, karena seni jaranan yang ada di Kediri ini tentunya memiliki sejarah dan memiliki nilai seni yang tak ternilai.

Jaranan di Kediri yang sering di tampilkan ada 4 macam diantaranya jaranan Senterewe, Jaranan Pegon, Jaranan Dor, Jaranan Jowo ini semua tentunya memiliki banyak kesamaan dan sedikit perbedaanya seperti di pakain atau atribut, alat, musik dan seni tarinya dan berikut penjabarannya :

Jaranan Jowo
Jaranan jowo ini memiliki unsur magis/mistis dalam tariannya dan pada puncaknya penari akan mengalami Trance (ndadi dalam bahasa jawa), dan melakukan atraksi di luar nalar manusia, untuk peralatan dan busana yang digunakan masih sangat sederhana

Jaranan Dor
Jaranan Dor pada umumnya di kertarikanya di humornya dalam bentuk tarian, music dan pada alat music di gong sekarang sudah mengunakan Bedug.

Jaranan Pegong
Jaranan Pegong ini di tonjolkan dengan kreatifitas di geraknya sedang iringan musiknya dinamis sedangkan untuk pakaiannya seperti pada wayang wong.

Jaranan Senterewe
Jaranan Senterewe menonjolkan kreatifitas gerak dan musik iringanya dinamis yang bernada diatonis dan penampilanyaa sering menghibur sehingga banyak yang menyukainya.

Sejarah seni jaranan di Kediri muncul sejak abad ke 10 Hijriah. Tepatnya pada tahun 1041 yang bertepatan kerajaan kahuripan di bagi menjadi 2 yaitu jenggala dan panjalu. Raja Airlangga memiliki seorang putri yang bernama Dewi Sangga Langit.

Pada waktu itu banyak sekali yang melamar, maka dia mengadakan sayembara dan Pelamar-pelamar Dewi Songgo Langit semuanya sakti tapi sebenarnya Dewi Songgo Langit tidak mau menikah dan dia Ingin menjadi petapa saja sedangkan Prabu Airlangga memaksa Dewi Songgo Langit Untuk menikah, dengan satu permintaan, Barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum ada di Pulau Jawa dia mau menjadi suaminya.

Pelamar Dewi Songgo Langit terdiri dari Klono Sewandono dari Wengker, Toh Bagus Utusan Singo Barong Dari Blitar, kalawraha seorang adipati dari pesisir kidul, dan 4 prajurit yang berasal dari Blitar. Para pelamar bersama-sama mengikuti sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit. Mereka berangkat dari tempatnya masing-masing ke Kediri untuk melamar Dewi Songgo Langit.

Beberapa pelamar sudah bertemu dijalan dan bertengkar dahulu sebelum mengikuti sayembara di kediri. Dalam peperangan itu dimenangkan oleh Klana Sewandono atau Pujangganom. Dalam peperangan itu Pujangganom menang dan Singo Ludoyo kalah. Pada saat kekalahan Singo Ludoyo itu rupanya singo Ludoyo memiliki janji dengan Pujangganom.

Singa Ludoyo meminta jangan dibunuh. Pujangganom rupanya menyepakati kesepakatan itu. Akan tetapi Pujangganom memiliki syarat yaitu Singo Barong harus mengiring temantenya dengan Dewi Sangga Langit ke Wengker.Iring-iringan temanten itu harus diiringi oleh jaran-jaran dengan melewati bawah tanah dengan diiringi oleh alat musik yang berasal dari bambu dan besi. Untuk mengenang sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit dan Pernikahanya masyarakat kediri membuat kesenian jaranan yang sekarang diturunkan secara turun temurun hingga sekarang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *